Massa galesong mendatangi kantor angkatan laut dimakassar Akibat penambangan pasir dan merugikan para nelayan dipisisir pantai

245

hari Jumat tanggal 23 Juni 2017, Pukul 05.00 Wita Kapal AL Samalona bertolak dari Dermaga Hatta (Petikemas) Makassar menuju Ke Kab. Takalar On Board Peltu Era Muh. Ali Nyau dan Serka Ekl Wawan dalam rangka pengawalan dan pengamanan kapal MV. FAIRWAY untuk melaksanakan pengerukan pasir di wilayah laut Kab. Takalar.

 

Pukul 08.10 Wita tiba di lokasi pengerukan pasir dan lego jangkar pada posisi   3 unit perahu nelayan dari Galesong Selatan dan membawa massa sebanyak 30 orang  yang mengatasnamakan perwakilan masyarakat Galesong Raya dan Sanrobone Kab. Takalar mendatangi lokasi pengerukan dgn maksud untuk menghentikan giat pengurukan namun dihalau oleh Kapal AL Samalona dan speed Polair kemudian 1 unit kapal diperintahkan merapat di lambung kanan Kapal AL Samalona dan diminta perwakilan dari massa untuk naik ke Kapal AL Samalona untuk dimintai keterangan.

 

Adapun 3 orang perwakilan yang naik ke Kapal AL Samalona yaitu :

  1. Ibu Nurlinda Taco (Koordinator massa)
    2. Sdr. Irvan
    3. Taco Subair

Dari hasil wawancara diperoleh keterangan bahwa kegiatan pengerukan pasir diruang laut Galesong dan Sanrobone Kab. Takalar dapat merusak ekosistem laut untuk selamanya dan terancamnya mata pencaharian nelayan kecil sekaligus membuat pernyataan tuntutan.

Pukul 19.15 Wita ke 3 unit kapal nelayan dan massa meninggalkan lokasi kembali ke daratan Galesong kecuali 3 orang ikut Kapal AL Samalona ke Makassar karena ditinggal sama kapal yang ditumpangi.

Pukul 20.00 Wita kegiatan di Kab. Takalar selesai, situasi aman terkendali selanjutnya bergeser menuju CPI Makassar.

Situasi yang berkembang yaitu sekitar 100 orang gabungan warga dari Dsn. Karama Desa Aeng batu-batu pukul 22.30 wita berangkat ke Makasar dengan tujuan untuk membebaskan Sdri. Nurlinda Taco karena ada informasi di tahan di Kantor Pol Airud Makasaar.

Pukul 00.30 Wita, massa dalam pulang kembali ke Galesong Utara.

Pukul 01.00 wita konvoi massa tiba di Galut dan melempari rumah Kepala Desa Aeng Towa Junaid Dg. Ruppa dan merusak pagar rumahnya.

 

Setelah massa melempari rumah Kades Aeng Towa langsung meninggalkan TKP karena warga Desa  Aeng towa sekitar 200 orang mengusir mereka. Tidak ada korban jiwa dan Kerugian materil pagar besi rusak. Setelah diusir dari Desa Aeng Towa selanjutnya massa bergerak menuju rumah Kades Aeng Batu-batu Wahyudin Mapparenta.

 

Pukul 01.10 Wita, massa tiba di rumah Kades Aeng Batu-batu.   dan melakukan hal yang sama. Setelah melakukan pelemparan ke rumah Kades Aeng Batu-batu massa bergerak ke rumah Kades Sampulungan.

 

Pukul 01.20 Wita massa tiba di rumah Kades Sampulungan. Setelah dari rumah Kades Sampulungan massa bergerak menuju rumah Kades Tamalate.

Pukul 01.30 Wita, massa tiba di rumah Kades Tamalate kemudian Kapolres Takalar melakukan mediasi dengan massa di depan rumah Kades Tamalate.

Penyampaian Kapolres Takalar yang intinya Kalau mau ajukan aspirasi ada waktunya.

Setelah dilaksanakan mediasi pada Pukul 01.33 Wita, massa membubarkan diri dan kembali kerumahnya masing-masing dengan tertib.

 

  1. Massa melakukan aksinya kepada 4 Kades di Kec. Galut karena di duga mereka yang menyetujui penambangan pasir laut di Galesong Raya.
  2. Massa mengira temannya di sekap sehingga mereka ke Makassar untuk membebaskan.
  3. redaksi  mapj